Digitalisasi Warung: Inklusi Digital & Finansial Menuju Kesejahteraan Rakyat

Digitalisasi Warung: Inklusi Digital & Finansial Menuju Kesejahteraan Rakyat

*sumber foto: sindo news

Saat ini terdapat lebih dari 4,5 juta warung tradisional di Indonesia. Selain itu, warung juga menyumbang 64% PDB (Produk Domestik Bruto). PDB sendiri diartikan jumlah produksi baik barang atau jasa yang telah dihasilkan oleh unit produksi di suatu daerah pada saat tertentu. Maka, PDB bisa dijadikan alat ukur dari pertumbuhan ekonomi suatu Negara. Di sisi lain, warung dilihat sebagai sumber kehidupan ekonomi Indonesia.

Dengan melihat adanya peran yang sangat tinggi dari warung untuk perekonomian Negara, berbagai pihak mencoba meng-upgrade kemampuan warung melalui teknologi. Mulai dari memperluas jenis layanan yang ditawarkan warung, pembukuan yang lebih mudah dan terstruktur, mencari supplier yang lebih murah, dimana tujuannya adalah untuk mengurangi biaya usaha. Misi yang ingin dicapai adalah inklusi digital --> inklusi financial untuk mencapai kesejahteraan rakyat.

Digitalisasi warung ini dilakukan oleh GrabKios pada tahun 2017. Kolaborasi antara Grab dan Kudo ini ingin memberdayakan tambahan 1 juta mitra GrabKios di Indonesia pada 2021 melalui pemanfaatan teknologi. Tiga cara yang dilakukan GrabKios dalam membedayakan warung adalah dengan memperluas jenis layanan yang ditawarkan warung serta membantu mereka untuk menambah penghasilan, menyediakan akses modal dan mengurangi biaya usaha.

Kami tidak hanya bertujuan untuk memberdayakan warung, tapi juga menjadikan mereka sebagai titik akses yang memungkinkan lebih banyak masyarakat mengakses produk-produk digital, seperti layanan keuangan, asuransi dan tabungan serta layanan lainnya,” ujar Neneng Goenadi, Managing Director of Grab Indonesia dalam press conference Kudo bertransformasi jadi GrabKios, Kamis (7/11) lalu.

Digitalisasi Warung: Inklusi Digital & Finansial Menuju Kesejahteraan Rakyat

GrabKios hadir untuk Majuin Warung dengan teknologi. *sumber foto: katadata

Satu tahun setelahnya, Warung Pintar berdiri dari masalah micro enterprise yang sulit untuk level up ke small maupun medium. Warpin ingin berinovasi mentransformasi micro enterprise ini untuk ekonomi di masa mendatang. Inovasi yang dilakukan mulai dari operasional, mulai dari procurement sampai fasilitasnya.

Believe kita di Warpin, teknologi sebagai anugerah dari Tuhan yang harus kita pergunakan sebaik mungkin. Teknologi kan sesuatu yang berubah terus, jadi kita selalu ngerasa apapun masalah yang kita temukan solusinya pakai teknologi. Kita memang hidup dari teknologi di company ini. Menurut kita cara untuk menyelesaikan masalah dengan teknologi,” ujar Agung Bezharie, Co-Founder & CEO Warung Pintar.

Digitalisasi Warung: Inklusi Digital & Finansial Menuju Kesejahteraan Rakyat

Warung Pintar hadir dengan visi bikin warung naik kelas. *sumber foto: tech in asia Indonesia

Keduanya sama-sama berharap digitalisasi warung dapat membantu usaha mikro. Berawal dari inklusi digital dengan menghadirkan peran teknologi di warung untuk mencapai iklusi finansial bagi warung itu sendiri dan perekonomian Negara dan mencapai tujuan untuk kesejahteraan rakyat. Digitalisasi warung nampaknya jadi solusi untuk memajukan warung melalui pemanfaatan teknologi, menyediakan solusi yang membantu warung bertahan seiring dengan pertumbuhan ekonomi digital dan dapat bersaing dengan minimarket modern. Semoga harapan baik untuk kesejahteraan rakyat dapat tercapai dengan bersinerginya warung dengan teknologi.