Bercermin Pada Youtuber

“Butuh media, sudah sedia. Kita itu hidup di zaman social media. Kritik pedas jangan masuk ke hati. Koreksi diri jadikan motivasi. Talk less do more, cot less create more. Berkarya jujur dan jangan bohong. Nggak papa jelek yang penting sombong.”

Penggalan lirik di atas berasal dari lagu berjudul Gapapa Jelek Yang Penting Sombong yang diunggah Chandra Liow dari akun YouTube-nya. Sejak diperkenalkan pada bulan Agustus 2016, video klip Gapapa jelek Yang Penting Sombong telah ditonton lebih dari 4,5 juta kali. Lagu ini diulas secara positif oleh sejumlah media dan menuai pujian dari musisi-musisi Tanah Air. So, what can our business learn from this creative song?

Media Sosial, Media yang ‘Ramai’

Seperti yang diungkapkan pada lagunya, kita hidup di zaman media sosial, sehingga tak heran bila menjadi platform untuk memasarkan produk. Ingin produk kita dikenal dan dicari, datangi ‘keramaian’ di media sosial dan dengarkan suara target konsumen kita di sana. Kritik dan keluhan disampaikan melalui media sosial, oleh karena itu kepuasan konsumen pun juga dicapai berkat peran media sosial.

Berangkat dari Keresahan

Pada video berbeda, Chandra menjelaskan bahwa lagu tersebut didasari keresahan pribadinya. Chandra juga berpesan bahwa menyampaikan keresahan ketika berkarya akan membuat karya tersebut lebih kuat. Kita perlu berangkat dari keresahan konsumen agar dapat hadir sebagai solusi. Pastikan kita tidak berhenti untuk memasang alat dengar kita lebar-lebar agar tidak ada keresahan konsumen yang terlewatkan.

It’s About How You Deliver It

Pesan yang ingin disampaikan Chandra lewat lagunya memang bukan hal yang baru, namun ia ingin mengemasnya dengan sesuatu yang berbeda. Tujuannya agar audiens ‘terikat’ dulu, baru pesannya tersampaikan. Mengapa? Menurutnya, karena ia berbicara pada banyak orang melalui internet sehingga tidak bisa disampaikan dengan cara yang biasa saja. Produk yang Anda pasarkan di media sosial mungkin bukan produk baru, namun strategi pemasaran Anda dapat menciptakan diferensiasi dengan kompetitor.

Mengabaikan media sosial berarti juga mengabaikan konsumen. Mengabaikan konsumen artinya kita kehilangan kesempatan untuk memahami masalah dan apa yang dibutuhkan mereka. Solusi pun tidak bisa kita berikan. Seperti Chandra yang memanfaatkan YouTube untuk berkarya, memanfaatkan tools yang sesuai membuat kita bisa merancang strategi pemasaran yang matang dan mengeksekusinya dengan cemerlang.

 

* Artikel ini telah dipublikasikan di Young On Top Magazine edisi Oktober 2016.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *