Media Sosial, Tidak Sekedar Tren

Sumber: www.professionbiz.com

Pada kuartal pertama tahun 2016, Facebook mengungkapkan bahwa media sosial ini telah mencapai 1,65 miliar pengguna aktif tiap bulannya. Sementara, berdasarkan studi sebuah portal statistik bernama Statista, Twitter mencapai 310 juta pengguna aktif per bulan pada periode yang sama. Sedangkan, untuk Instagram, sejak tahun 2015 lalu telah mencapai lebih dari 400 juta pengguna.

Menyimak data di atas, tidak heran bahwa media sosial dilirik banyak pebisnis untuk menjadi wadah berpromosi dan memasarkan produk mereka. Selain tak memungut biaya sepeser pun, media sosial dapat menjangkau calon konsumen dengan luas dan cepat. Dibanding pemasaran secara tradisional, melalui media sosial jauh lebih efektif dari segi waktu, biaya, dan tenaga.

Tak hanya berpromosi, media sosial juga menjadi sarana mendekatkan diri dengan konsumen. Tahun 2015 lalu, berdasarkan data dari Twitter Indonesia, ada enam industri yang memanfaatkan media sosial sebagai customer support. Enam industri tersebut adalah teknologi, travel, finansial, otomotif, telekomunikasi, dan restoran.

Meski jumlah pengguna media sosial sangat menjamur, tak sedikit pebisnis yang masih kesulitan dalam merancang strategi pemasaran agar mampu mencapai target yang diharapkan. Padahal, data yang tersimpan di media sosial dapat dimanfaatkan sebagai cara untuk memahami keinginan konsumen dan menjadi dasar keputusan bisnis.

Ya, bukan hanya untuk promosi dan customer support, media sosial juga bisa menjadi tempat pebisnis menganalisa data demi mendapatkan digital market insight untuk meningkatkan performa bisnis.

Berbicara mengenai market insight, metode survei dan Focus Group Discussion (FGD) sudah mulai ditinggalkan karena dianggap tidak lagi akurat. Jawaban yang diberikan responden diragukan kebenarannya. Penyebabnya karena adanya kesadaran penuh bahwa mereka sedang menjadi responden hingga imbalan atau hadiah yang didapatkan bila menjadi responden. Situasi ini jauh berbeda dengan media sosial, di mana semua orang dapat mengungkapkan pendapat apa adanya dan tanpa paksaan.

Keberadaan perangkat lunak alat analitik media sosial memudahkan kita dalam mendapatkan insight tersebut. Apa yang bisa kita temukan lebih dari sekedar mention dari konsumen, tapi juga keseluruhan percakapan mengenai industri bisnis. Kesempatan ini dapat dimanfaatkan mereka yang tak mau trial and error dalam berbisnis, yang mengakibatkan terbuangnya waktu dan biaya yang besar.

Memiliki akun media sosial bukan sekedar terbawa arus tren atau gaya-gayaan. Menciptakan produk yang mampu menjawab permintaan konsumen adalah tawarannya.

 

* Artikel ini telah dipublikasikan di Majalah Market+ edisi Juli 2016.

** Mau meningkatkan penjualan bisnis dan popularitas diri Anda di media sosial? SocialMeter.id bisa menjadi solusi yang Anda pilih. SocialMeter.id merupakan produk dari GDILab.com yang dapat memberikan arahan bagi para pelaku usaha mikro dan kecil untuk membantu meningkatkan penjualan, reach, exposure, dan engagement di akun media sosial mereka. Tidak hanya itu, SocialMeter.id juga dapat membantu para influencers, buzzers, bloggers, dan selebgram meningkatkan popularitas mereka di tiga media sosial: Twitter, Facebook Page, Instagram. Harga yang ditawarkan sangatlah terjangkau, pemilik usaha mikro/kecil, dan para influencers cukup membayar Rp 100.000 per-bulan atau Rp 500.000 per-tahun. Masukkan kode SM07, untuk mendapatkan diskon sebesar 10%.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *