Berani Mengambil Risiko

Sumber: www.pippaspibey.com

Pada bulan Oktober tahun 1993, Macintosh TV diperkenalkan Apple sebagai inovasi pertama Apple mengombinasikan komputer dengan televisi. Macintosh TV dihadirkan berwarna hitam dengan remote control, keyboard, dan mouse. Sayangnya, produk ini hanya mampu bertahan selama kurang lebih 1 tahun setelah terjual sebanyak 10.000 unit.

Kegagalan dalam berinovasi merupakan risiko yang harus ditanggung Apple. Meskipun demikian, hal ini tidak lantas menjadikan Apple berhenti berinovasi lewat produk-produknya. Jika Steve Jobs cepat menyerah dalam menciptakan dan mengembangkan produk, kita tidak mungkin mengenal Apple sebagai perusahaan yang sesukses sekarang. Semangat inilah yang patut kita tiru sebagai motivasi untuk mengembangkan bisnis.

Meminimalisir Risiko, Bisakah?

Berbicara mengenai risiko, kesalahan yang kerap dilakukan pebisnis adalah mengeluarkan produk tanpa melakukan riset atau mencari informasi mengenai konsumen yang disasar terlebih dahulu. Misalnya, kebiasaan apa saja yang kerap mereka lakukan sehari-hari, apa yang mereka sukai, dan apa yang mereka harapkan dari sebuah produk. Alhasil, produk yang dihasilkan hanya berdasarkan asumsi semata. Tanpa adanya riset, seorang pebisnis harus siap menerima risiko kegagalan yang jauh lebih besar ketimbang kompetitornya yang melakukan riset. Kembali pada kegagalan Macintosh TV, bukan berarti Apple tidak melakukan riset terhadap kebiasaan konsumennya. Namun, jika dengan riset saja sebuah bisnis masih berpeluang menerima kegagalan, bagaimana dengan tanpa riset? Risiko tidak bisa kita hindari, namun bisa kita kurangi.

Melakukan Riset di Tempat Yang Tepat

Ketika kita ingin melakukan riset, sudah barang tentu kita mengharapkan hasil yang akurat dan tidak bias. Di mana dan bagaimana caranya melakukan riset adalah dua aspek yang perlu diperhatikan. Salah satu contohnya adalah media sosial, di mana segala macam topik, termasuk mengenai industri bisnis Anda, diperbincangkan di sana. Tidak perlu membayangkan metode yang sulit, menggunakan alat bantu seperti analytics tools bisa memudahkan proses riset. Hal-hal yang Anda butuhkan untuk diketahui sebagai modal mengembangkan produk seperti kebiasaan konsumen, bagaimana perilaku mereka, serta apa yang mereka inginkan, bisa Anda tangkap dari perbincangan di media sosial.

Kesimpulan yang bisa kita ambil adalah selalu ada jalan untuk mengurangi risiko yang tidak diinginkan dalam berbisnis. Namun, jika kegagalan masih saja mengikuti Anda, ingat apa yang pernah Steve Jobs katakan, If I try my best and fail, well, I’ve tried my best.”

 

* Artikel ini telah dipublikasikan di majalah Market+ edisi Agustus 2016.

** Mau meningkatkan penjualan bisnis dan popularitas diri Anda di media sosial? SocialMeter.id bisa menjadi solusi yang Anda pilih. SocialMeter.id merupakan produk dari GDILab.com yang dapat memberikan arahan bagi para pelaku usaha mikro dan kecil untuk membantu meningkatkan penjualan, reach, exposure, dan engagement di akun media sosial mereka. Tidak hanya itu, SocialMeter.id juga dapat membantu para influencers, buzzers, bloggers, dan selebgram meningkatkan popularitas mereka di tiga media sosial: Twitter, Facebook Page, Instagram. Harga yang ditawarkan sangatlah terjangkau, pemilik usaha mikro/kecil, dan para influencers cukup membayar Rp 100.000 per-bulan atau Rp 500.000 per-tahun. Masukkan kode SM07, untuk mendapatkan diskon sebesar 10%.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *